Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Bandung Selatan- Malabar, Kawah Putih, Situ Patenggang

Pengen update blog tapi malas menulis, hehehe... kita share foto-foto jalan-jalan aja yaaah, di mulai dari mana yaah,, emmm.., lanjutan cerita dari Kebun Teh malabar aja yaa,



PT. Perkebunan Nasional Malabar dan Villa Bosscha






Kawah Putih, Ciwidey





Situ Patenggang



Nah, di atas adalah foto-foto saya ketika berwisata di bandung selatan. oiya, di Situ patenggang ada legenda tempat bernama batu cinta, ceritanya begini:

Situ ini muncul ke permukaan disebabkan karena seorang pangeran (Ki Santang) dan seorang putri (dewi Rengganis) yang saling jatuh cinta. Namun perjalanan cinta mereka tidak semulus dan seindah yang dibayangkan oleh keudanya karena dipisahkan oleh keadaan. Sehingga air mata mereka membentuk sebuah situ atau danau. Selanjutnya danau itu dinamai dengan situ patenggang yang diambil dari kata pateangan-teangan yang berasal dari bahasa sunda yang artinya saling mencari-cari. Pada akhirnya mereka dapat berkumpul kembali pada sebuah batu di situ tersebut yang diberi nama batu cinta. Konon siapapun yang pernah berkunjung dengan pasangannya, maka cinta mereka akan abadi.

Tips lainnya jangan lupa mampir untuk metik dan beli buah strawberry, terus lumurin dengan coklat cair yang ada di sekitar ciwidey, serta pinter-pinter liat kanan kiri nyari rumah makan yang jual entog- semacam bebek, tapi bukan bebek... beuh, nikmaaaat! slurp :9


Pulau Tidung

Tulisan ini sebenernya pernah saya kirim ke redaksi majalah, tapi karena ga sempet edit2 lagi jadi saya menggagalkannya, what a lost :'( wish i have more than 24 hours a day!! bahkan ini saya copy langsung dari e-mail saya ke editornya, karena lupa dimana saya nyimpen filenya, hehe.... kasarnya begini:

Melepas kepenatan kuliah, saya bersama teman-teman berencana untuk berakhir minggu di Pulau Tidung. Pulau yang berjarak dua setengah jam dari Jakarta ini dapat menjadi tujuan pelarian sesaat dari kondisi hirukpikuknya ibukota.

Pulau Tidung dari gugus kepulauan seribu belakangan ini ramai dibicarakan banyak kalangan, khususnya mahasiswa. Selidik punya selidik beberapa mahasiswalah yang memang menjadi agen perjalanan wisata di pulau ini. Mereka mengorganisir warga untuk memberdayakan sumber daya yang ada untuk kemajuan wisata Pulau Tidung. Mereka juga menawarkan itinerary khusus pada pengunjung dengan harga sesuai dengan kantong mahasiswa. Biasanya seminggu sebelum perjalanan mereka akan memberikan briefing mengenai apa yang harus dan akan dilakukan selama perjalanan ke pulau tidung.

Tempat pemberangkatan kapal menuju pulau tidung adalah Pelabuhan Muara Angke. Saya cukup terkejut dengan banyaknya pengunjung yang akan mengunjungi pulau tidung pada akhir minggu itu. Dari Pelabuhan Muara Angke kami diberangkatkan menggunakan kapal yang kondisinya tidak cukup bagus menurut saya dan berdesak-desakan dengan beberapa pengunjung lainnya di dalam kapal. Kapal berangkat menuju Pelabuhan Pulau Tidung pukul delapan pagi. Sebagai alternatif dari sumber lain yang saya dapatkan ternyata untuk menuju Pulau Tidung kami tidak harus berdesak-desakan di atas kapal seperti yang saya lakukan, tetapi bisa juga berangkat dari Pelabuhan Marina, Ancol dengan kapal yang lebih bagus kondisinya.

Melewati Teluk Jakarta saya semakin cemas dengan apa yang akan kita dapatkan di Pulau Tidung nanti, bagaimana tidak, selama satu jam perjalanan laut, yang saya lihat adalah air laut yang keruh, sampah, batang kayu, bahkan sofa mengambang di atasnya. Teluk Jakarta benar-benar telah tercemar limbah, tidak hanya industri, namun juga rumah tangga.

Kecemasan saya tidak berlangsung lama, sesampainya di Pulau Tidung saya langsung terpana dengan beningnya air laut dan pepohonan hijau yang membentang di sepanjang dermaga pelabuhan pulau tidung. Kami disambut oleh warga Pulau Tidung yang memang bahu membahu setiap minggunya menyambut pengunjung yang datang dari luar pulau. Dari agen perjalanan, kami mendapat pemandu wisata yang memang merupakan orang asli Pulau Tidung.

Dari dermaga, kami berjalan menuju penginapan yang telah disediakan. Di Pulau Tidung ini tidak terdapat hotel, tetapi hampir sebagian dari warga pulau ini menyewakan rumahnya untuk dijadikan tempat menginap. Kami mendapatkan rumah dengan tiga tempat tidur, kamar mandi, TV, dan AC. Bahkan pemilik rumah yang kami tempati memperbolehkan kami menggunakan dapurnya, walau persoalan konsumsi telah diatur oleh agen perjalanan kami. Lebih dari cukup bagi kami yang hanya membayar seluruh biaya tur di Pulau Tidung ini sebesar 320 ribu rupiah.

Setelah beristirahat beberapa jam di rumah, kami siap untu ber-snorkeling. Peralatan snorkeling, yaitu fin, goggle, life vest, dan snorkel disediakan oleh agen perjalanan. Namun kita juga bisa menyewanya. Kami menaiki kapal tradisional yang lebih kecil untuk menuju snorkeling-spot. Karena banyaknya pengunjung di pulau ini, snorkeling spot harus dibagi, kami mendapatkan dua snorkeling spot, yaitu di Pulau Payung dan Pulau Air. Kedua pulau ini ditempuh selama 15 menit menggunakan kapal dari Pulau Tidung. Air lautnya jernih, terumbu karangnya indah, dan ikannya banyak. Kami bersnorkeling sambil memberi makan ikan-ikan tersebut dan mengambil foto-foto dalam air hingga lupa waktu. Tiba-tiba pemandu wisata kami sudah memberikan aba-aba bahwa kami harus bergegas sebelum matahari terbenam. Saat itu saya baru menyadari bahwa hari sudah sangat sore. Ah, rasanya tidak ingin beranjak dari laut.

Kapal kami menepi di dekat jembatan cinta, jembatan ini menghubungkan dua pulau dari pulau tidung, Pulau Tidung Besar yang berada di barat dan Pulau Tidung Kecil yang berada di Timur. Di sepanjang pantai dekat jembatan, banyak orang berjualan makanan, namun sayangnya makanan yang dijual disini hanya sebatas indomie dan bakso serta makanan ringan, kamipun berandai-andai jika saja ada seafood disini, lengkap sudah liburan singkat kami, sambil menikmati matahari terbenam kami menyantap seafood, andai saja...

Ternyata seafood datang pada malam hari. Setelah kami membersihkan diri di rumah, jam 8 malam kami dijemput pemandu wisata kami menggunakan sepeda. Masing-masing dari kami boleh memilih sepeda yang telah disediakan di halaman rumah. Bagi yang tidak dapat bersepeda, dapat naik becak menuju dermaga jembatan cinta. Malam hari itupun kami bersepeda menyusuri pantai. Di dermaga jembatan ini sudah tersedia ikan bakar beserta kecapnya. Rasanya bertambah nikmat ketika agen perjalanan menutup malam itu dengan kembang api di tepi pantai. Sungguh suasana yang romantis.

Pagi harinya kami kembali bersepeda menuju dermaga jembatan cinta menanti matahari terbit dan tidak lupa berfoto-foto di tepi pantai yang jernih, Kami berjalan kaki melewati jembatan cinta yang panjang menuju Pulau Tidung Kecil. Di Pulau Tidung Kecil yang tidak berpenghuni ini terdapat budidaya mangrove untuk mencegah abrasi air laut. Pulau yang dapat dikelilingi hanya dalam waktu 15 menit ini sungguh sangat mempesona. Kami berjalan berkeliling dan kembali ke tepi dermaga jembatan cinta Pulau Tidung Besar. Disini kami dapat bermain water sport seperti jet ski atau banana boat. Namun hal yang paling mengasyikan sekaligus memacu adrenalin adalah bridge jumping yaitu meloncat dari puncak jembatan setinggi kurang lebih 7 meter dari permukaan laut langsung ke dalam laut. Sungguh suatu tantangan tersendiri, setelah melakukannya ,sayapun ketagihan mencobanya hingga tiga kali!

Setelah makan siang, kami pun bersiap-siap kembali ke Jakarta dengan segudang cerita menyenangkan dan keinginan untuk kembali ke pulau ini lagi jika ada kesempatan. Satu lagi yang perlu diingat, karena pulau ini tidak mempunyai Tempat Pembuangan Akhir sampah, maka setiap pengunjung yang membawa sampah dari Jakarta harus membawa kembali ke Jakarta sampah tersebut, so keep this Island clean.

Getting here:

1. Anda dapat menggunakan jasa agen perjalanan maupun bepergian sendiri, namun pastikan Anda telah mendapatkan guest house atau rumah penduduk yang dapat dijadikan penginapan karena setiap weekend, pulau ini selalu ramai dikunjungi. Untuk travel agent dapat di lihat di situs facebook: pulau tidung dan kaskus: tidung. Biaya untuk agen perjalanan tergantung dari paket dan fasilitas yang diberikan, jumlah peserta, dan lama tinggal dipulau..

· Jika anda ingin bepergian sendiri dapat langsung menggunakan kapal dari pelabuhan muara angke dengan membayar ± Rp. 40.000,- sekali jalan,atau menggunakan boat dari Pantai Marina, Ancol

· Biaya sewa rumah atau guest house semalam untuk 3 tempat tidur ± Rp.300.00,-

· Harga sewa peralatan snorkeling ± Rp. 30.000,- untuk menyewa sepeda ± Rp. 15.000,-/ hari dan sewa motor ± Rp.50.000,- / hari. Di pulau ini tidak terdapat transportasi mobil

2. Sinyal handphone di Pulau tidung sangat buruk, hanya provider indosat yang memiliki akses sinyal disana, itupun sangat lemah.



Picture? of course banyaaaaaak!! hahaha... check this out, u'll be blown away!
pictures by Indah Kusuma Pertiwi :)
so, jangan takut gosong, yuk ke Pulau Tidung :)







itu sayaaa!! yang sedang Bridge Jumping itu sayaa!!




sunrise




Villa Bosscha, Kebun Teh Malabar - Pangalengan

dua minggu kemarin papa ribut ngajak2 pergi ke bandung, but i dont know why, i really dont have any crush or feeling at all with that city; menurut saya itu kota paling membosankan yang pernah saya temui, udaranya biasa saja, bahkan kadang lebih dingin depok, selain gedung2 sate dan rumah-rumah jaman Belanda yang sebenernya juga ada di Depok atau Jakarta, buat saya Bandung sama sekali tidak menarik. (buat saya loh yaa); apalagi belakangan kalo mau pergi ke bandung macetnya bukan main, apalagi weekend, belum ditambah rentetan mobil2 disepanjang galeri factory outlet, No... KOTA Bandung ga meninggalkan sedikitpun impression yang bagus di mata saya. (maap ya zaza :p)

so, ketika si papah bilang mau ngajak ke bandung, saya cuma mengangkat alis, dan berkata: halaaaah, cuma nyapek-nyapekin aja. yap i prefer go to beach and have some fun splashing water :)

tapi si papah ngebantah mati2an, dan dia bilang bukan ke KOTA Bandungnya, kita mau ke Pangalengan, nginep di Perkebunan Teh Malabar, Villa Bosscha. What????? Bosscha?? Pekik saya? asiiiik bisa ngeliat Peneropongan Bintang dong (baca: Observatorium Bosscha), omy GOD!! itu cita2 SD saya; kerja jadi astronom di Observatorium Bosscha, daaaaaaannn... lagi-lagi saya salah :(

ternyata yang di Pangalengan itu Rumah Mr. Karel Albert Rudolf Bosscha, pemilik (landlord) perkebunan teh yang superduper besar di kecamatan Malabar,dia juga berjasa mendirikan SD Malabar buat masyarakat pribumi dan berkontribusi besar untuk pembangunan Observatorium Bosscha (YANG ADA DI LEMBANG!) hehehe... nah, saking berjasanya, sebuah planetoid yang ditemukan di tahun 2007, diantara Planet Mars dan Jupiter dinamakan atas nama beliau, yak, Planetoid KarelBosscha, WOW! sampai saat ini jasadnya dimakamkan di dekat rumahnya di Perkebunan teh Malabar atas permintaannya, yep, he was in love with Malabar.

balik lagi ke perjalanan dari depok saya dan keluarga saya berikut si mbak dan pak supir (kecuali dua kura-kura di rumah :p) hari sabtu kemarin berangkat jam 9, pengennya berangkat pagi2 buta, tapi gara2nya adik saya ada ujian di kampus yaa, akhirnya ke salemba dulu, nunggu sampe adik saya itu selesai ujian, belanja2 makanan buat perjalanan, daaaan jam 12 siang dari salemba --__-- langsung masuk tol rawamangun teruuus, dua jam kemudian keluar di pintu tol KOPO, sampai di Kopo ini udah jam setengah 3 aja, kirain udah deket ternyataaaa masih menempuh 2 jam lagi sampe Pangalengan, aiiiih pantat saya tipiiiis :(

nyari PT Perkebunan Nasional Malabar ga susah, dari pangalengan terus ajaaa naek sampe berasa di puncak gunung and ngeliat plang agrowisata perkebunan malabar disebelah kanan, nyampe deeeh,,, cuma karena jalannya 'gunung banget' jadilah si mbak ini muntah2, kasiaaan...
setelah sampe, huaaaaaaahh... what a view!!! kebun teh membentang (yaiyalah yaa di kebun teh) di permukaan yang bebukit-bukit rapi, seriously i'm falling for this place!! jauh lebih keren daripada kebun teh gunung mas, saatnya mencari rumah kelapa villa boscha.

eng-ing-eng, ternyata rumah kelapa ini , literally RUMAH KELAPA, dari jauh terlihat seperti rumah kayu biasa yang kayak ada di puncak-puncak tapi setelah masuk, yak, dinding-dinding kayu ini ternyata memang serat kelapa yang telah dipelitur coklat, begitu juga atepnya yang dilapisi sabut kelapa. Loooove it :)

tapi berhubung nyampe juga udah sore jadilah kami cuma beristirahat sebentar sore itu dan nyari makan malem abis maghrib. Pangalengan ini sepiiiii banget, jarak rumah ke rumah jauh-jauhan, dan setelah beberapa saat kami menuruni gunung, GA ADA YANG JUAL MAKAN!!! sampai akhirnya kami turun sampe kota dan langsung berhenti di rumah makan pertama yang keliatan, namanya SATE ERNA!! 2thumbsup, serius sate kambingnya empuk parah (kambing looh) dan gulai sapinya menggiurkan, asli enaaaaak banget sampe nambah 2 piring :9

tapi kami ga bisa lama-lama, udah malem dan udah ujan di luar, kami takut kabut udah turun, sedangkan kami harus naik gunung lagi; jadilah kami semua buru2 pulang ke villa... ending malam itu ketika semua orang tertidur, saya makan pop mie di suhu 18 derajat sambil ntn derby MU vs MCity yang dimenangkan oleh MU dan saya bengong lihat gol overheadnya Rooney :'(

keesokan harinya, kami ga mau melewatkan Tea Walking diantara berhektar-hektar kebun dan bukit teh dan berfoto disana, hahaha... the view was amazing!!! dan 14 derajat dinginnya; ga sanggup tanpa jaket, karena pecicilan, kaos kaki saya basah kemasukan embun dari pori2 sepatu tenis yang saya pake... haha

setelah bosen teriak-teriakan di bukit sambil tea walk, kami mampir ke makam Mr. Bosscha, makamnya besar, rapi, dan bersih. yak tentu saja ada ibu2 yang baik hati yang merawat makam itu dan menghiasi makam itu dengan tanaman favorit Mr. Bosscha; mawar putih :) iiiih sama om, saya juga sukanya mawar putih loooh (ga ada yang nanya) ;p. dari sang ibu ini juga kami mendengar cerita2 mistis; katanya Mr. Bosscha ini setiap senin malam masih suka 'dateng' ngawasin kebunnya, suara tongkatnya masih suka terdengar... hihhihi... sayangnya umur Mr. Bosscha ini ga panjang, cuma 63 tahun, buat orang jaman dulu banget, ini cukup singkat; apalagi beliau ga sempet meneropong bintang di observatoriumnya sendiri pasca pembangunan. beliau kabarnya sakit terus-menerus setelah jatuh dari Kudanya, dan meminta untuk dimakamkan di Malabar ini karena kecintaannya terhadap daerah ini


setelah foto-foto di makam, semuanya pergi mandi dan berkemas, setelah rapi, kami mampir ke Villa Bosscha, rumah dinas Mr. Bosscha ketika dulu beliau tinggal di Malabar. dan yeah, i definitely wanna live here; so light and open! dan super duper nyaman :) berkeliling rumah ini kami menjadi mengerti bagaimana kekuasaan Tuan Tanah (Land Lord) pada era politik Tanam Paksa (CultuurStelsel) hmmm... di rumah ini juga ada bunker yang pada zaman perang kemerdekaan telah dihancurkan oleh pasukan pembela tanah air kita. dan bunker itu pun ditutup sampai sekarang.

Menuju kota Pangalengan, kami singgah dan beli oleh-oleh. apasaja yang bisa dibeli di kota kecil ini? susu murni, dodol susu, permen susu, dan kerupuk susu. Pangalengan ini terkenal karena hebatnya koperasi usaha daerahnya memasarkan produk lokalnya; pernah denger Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan? yak nyanyian si tukang susu yang dulu berbunyi "Susu Murni Pangalengan" ini sangat terkenal, bahkan ada ringtonenya, ga percaya? coba googling deh, hehe... tapi belakangan namanya diganti jadi nasional yak? still, love the milk whatever it is called :)




so, back to jakarta again? Noo, masih ada perjalanan ke Ciwidey loooh :)
so, keep reading my next blog (kayak banyak aja yang baca) :p
another pics? buka aja fb sayaaa, i'll upload it soon :)

wisata bencana di Magelang

masih teringat bencana meletusnya gunung merapi akhir tahun kemarin? yap, betul letusan dahsyat yang merenggut ratusan nyawa, melukai banyak orang serta menyebabkan kerugian material yang super duper besar itu. wedus gembel yang meluluhlantakkan beberapa desa, tidak cuma manusia, hewan ternak dan tumbuhan yang hidup pun terbujur kaku tertutup debu.

namun bencana itu ternyata tidak sebatas meletusnya gunung merapi saja, beberapa minggu setelahnya, bahkan sampai hari ini hujan yang selalu turun belakangan ini, membuat kerugian material semakin bertambah, dengan datangnya banjir lahar dingin Merapi, yang meluas hingga Magelang.

Saya yang kebetulan liburan imlek kemarin sedang berada di Semarang tertarik wacana beberapa saudara yang mengusulkan untuk pergi ke tempat bencana lahar dingin tersebut di daerah Magelang, mereka berkata: wisata bencana. yah, walaupun sebetulnya tidak etis untuk berwisata dalam meaning having fun ke tempat bencana yang sebenarnya adalah tempat warga kehilangan rumah, harta, dan mungkin saudaranya, namun saya juga tergelitik untuk melihat separah apakah banjir lahar dingin yang katanya hingga memutuskan jalan raya yang dan menjadikan kota magelang terbelah menjadi dua.

dari semarang menuju magelang, kita akan melewati kota Ungaran, Ambarawa (kota-kota ini masih termasuk Kabupaten Semarang), yang saya suka ketika melewati daerah ini adalah udaranya yang begitu sejuk karena masih termasuk ke dataran tinggi. aih, mama sama papa selalu pengen punya rumah di daerah ini, haha...

memasuki Magelang, langit sebenernya sudah agak mendung dan mendadak jalanan di depan kami macet total, ternyata ada penyempitan jalan karena ada penggalian pasir dan material-material yang tersisa akibat banjir lahar dingin. tepat di daerah Comal, Magelang disebelah kanan-maupun kiri sudah tertutup pasir dan batu-batu. alat-alat berat sedang bekerja menggali dan memindahkan batu-batuan yang tingginya hampir 2 meter.

melewati jembatan yang menjembatani kali yang merupakan pembawa arus lahar dingin, kami melihat pasir yang sudah menimbun rumah hingga atap-atapnya, bahkan terdapat rumah yang tidak bersisa karena terlindas batu-batu raksasa muntahan Merapi. bagaimana kami tahu itu adalah sisa rumah? warga-warga daerah tersebut membuat papan sebagai plang untuk mengklaim rumah mereka, sebelum ada orang lain yang mengklaim tanah-tanah tak berpenghuni tersebut. sungguh menyedihkan keadaannya.








melewati jembatan tersebut kami menepi untuk melaksanakan sholat jumat dan sholat zuhur, kemudian kami berputar balik melewati jembatan tadi lagi. sebelum jembatan, terdapat posko bantuan, kami dapat memarkir mobil disana dan melihat-lihat separah apa rumah warga yang terkena banjir lahar dingin. disaat kami memarkir mobil, terdapat beberapa keluarga yang memberikan sembako atau bantuan berupa alat tulis untuk anak-anaknya. kami keluar dari mobil dan mulai menjelajahi rumah ke rumah, rata- rata semua rumah sudah terendam pasir hingga ke atap, dan beberapa pohon yang harusnya tingginya lbih dari 2 meter hanya terlihat puncaknya saja yang tinggal setengah meter.

pulangnya kami ga sanggup melewatkan kupat tahu magelang yang terkenal dan jajan makanan khas magelang dan muuntilan: wajik, getuk trio, tape ketan, dan lainnya :9

foto-foto bisa dilihat di: fieldtrip to hometown facebook page milik adik saya
sangat menyedihkan melihat kondisi desa tersebut....
berikut beberapa contoh foto yang kami ambil